Policy Review 02 - Rasio Pajak Rendah Utang Makin Menumpuk

Victoria Fanggidae • Ah Maftuchan • Nawa Poerwana Thalo • Luhur Fajar Martha • B. Chelvi Yuliastuti
Policy analysis Perkumpulan PRAKARSA • Maret 2012 Indonesia

Unduh teks lengkap
(Bahasa Indonesia, 4 pages)

Abstrak

enerimaan pajak Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara yang tingkat ekonominya setara. Rasio penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya berkisar 12%. Padahal rata-rata penerimaan pajak negara-negara yang termasuk dalam kelompok menengah bawah (lower middle income) seperti Indonesia mencapai 19%. Rasio pajak Indonesia bahkan di bawah rata-rata negara miskin (low income) yang sudah mencapai 14,3%.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012, penerimaan pajak Indonesia diproyeksikan mencapai Rp 1.033 triliun. Berdasarkan kategori negara berpendapatan menengah, dengan jumlah tersebut negara ini sebenarnya kehilangan potensi pajak sekitar Rp 512 triliun atau hampir 50%. Perkiraan konservatif International Monetary Fund (IMF), potensi pajak yang hilang juga lebih dari 40%.

Ketidakmampuan mengoptimalkan penerimaan pajak menyebabkan utang terus “berkelanjutan”. Jumlah utang baru, hampir selalu lebih besar cicilan utang. Akumulasi utang akan mencapai Rp 1.937 triliun tahun ini, artinya setiap penduduk Indonesia menanggung utang Rp 8 juta. Rasio utang terhadap PDB di bawah 30% bukan berarti aman apabila rasio pajak terus rendah. Akumulasi utang dan pendapatan rendah akan membawa Indonesia terjebak dalam perangkap utang (debt trap).

Metrik

  • 85 kali dilihat
  • 17 kali diunduh

Penerbit

Perkumpulan PRAKARSA

Perkumpulan Prakarsa (Welfare Initiative for Better Societies) was created on August 31 2004 and ... tampilkan semua